<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Moh. Teguh Setiabasa</title>
	<atom:link href="http://setiabasa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://setiabasa.wordpress.com</link>
	<description>Ka cai jadi saleuwi ka darat naik Pesawat</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Jun 2008 04:36:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='setiabasa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Moh. Teguh Setiabasa</title>
		<link>http://setiabasa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://setiabasa.wordpress.com/osd.xml" title="Moh. Teguh Setiabasa" />
	<atom:link rel='hub' href='http://setiabasa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ijinkan Aku Menciummu Ibu&#8230;</title>
		<link>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/13/ijinkan-aku-menciummu-ibu/</link>
		<comments>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/13/ijinkan-aku-menciummu-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 04:36:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>setiabasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setiabasa.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku dipaksa membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiabasa.wordpress.com&amp;blog=3250716&amp;post=18&amp;subd=setiabasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku dipaksa membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.</p>
<p style="text-align:justify;">Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang</p>
<p style="text-align:justify;">mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.</p>
<p style="text-align:justify;">Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.<br />
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi doa di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/setiabasa.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/setiabasa.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setiabasa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setiabasa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setiabasa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setiabasa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setiabasa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setiabasa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setiabasa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setiabasa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setiabasa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setiabasa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setiabasa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setiabasa.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setiabasa.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setiabasa.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiabasa.wordpress.com&amp;blog=3250716&amp;post=18&amp;subd=setiabasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/13/ijinkan-aku-menciummu-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">setiabasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berpikir Sederhana</title>
		<link>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/13/berpikir-sederhana/</link>
		<comments>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/13/berpikir-sederhana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 04:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>setiabasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setiabasa.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan Tidak lama ia menunggu, seekor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiabasa.wordpress.com&amp;blog=3250716&amp;post=17&amp;subd=setiabasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penyerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, &#8220;untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, &#8220;Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia.&#8221; Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh,tetapi ternyata, ah&#8230; kijang. Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur</p>
<p style="text-align:justify;">Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, Rusa!!!&#8221; sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga. Tidak jarang orang orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.</p>
<p>Demikian juga dengan seseorang yang mengidamkan pasangan hidup, yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang alim, baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/setiabasa.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/setiabasa.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setiabasa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setiabasa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setiabasa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setiabasa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setiabasa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setiabasa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setiabasa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setiabasa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setiabasa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setiabasa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setiabasa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setiabasa.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setiabasa.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setiabasa.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiabasa.wordpress.com&amp;blog=3250716&amp;post=17&amp;subd=setiabasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/13/berpikir-sederhana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">setiabasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERBAKTI  KEPADA  ORANG TUA</title>
		<link>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/13/berbakti-kepada-orang-tua/</link>
		<comments>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/13/berbakti-kepada-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 04:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>setiabasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[berbakti]]></category>
		<category><![CDATA[orang tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setiabasa.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Bersilaturrahim dan berbuat baik kepada orang tua merupakan ajaran yang menjadi ketetapan Kitabullah Al-Qur&#8217;an dan Al-Hadits. Allah Ta&#8217;ala berfirman: &#8220;Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya&#8221;. (Al-Isra&#8217;: 23) Wa Qadha Rabbuka berarti suatu perintah yang lazim tidak bisa ditawar-tawar lagi dan Alla [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiabasa.wordpress.com&amp;blog=3250716&amp;post=15&amp;subd=setiabasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Bersilaturrahim dan berbuat baik kepada orang tua merupakan ajaran yang menjadi ketetapan Kitabullah Al-Qur&#8217;an dan Al-Hadits. Allah <em>Ta&#8217;ala </em>berfirman: <em> </em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya&#8221;. </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">(Al-Isra&#8217;: 23) </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Wa Qadha Rabbuka</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> berarti suatu perintah yang lazim tidak bisa ditawar-tawar lagi dan <em>Alla Ta&#8217;budu Illa Iyahu</em> berarti perintah ibadah yang bersifat individu. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Allah menghubungkan beribadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada orang tua menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang tua dan <em>birrul walidain </em>(berbuat baik kepada kedua orang tua) di sisi Allah. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Secara naluri orang tua dengan suka rela mau mengorbankan segala sesuatu untuk memelihara dan membesarkan anak-anaknya dan anak mendapatkan kenikmatan serta perlindungan sempurna dari kedua orang tuanya. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Seorang anak selalu merepotkan dan menyita perhatian orang tuanya dan tatkala menginjak masa tua mereka pun tetap berbahagia dengan keadaan putra-putrinya, akan tetapi betapa cepat seorang anak melalai-kan semua jasa-jasa orang tuanya, hanya disibukkan dengan isteri dan anak sehingga para bapak tidak perlu lagi menasihati anak-anaknya hanya saja seorang anak harus diingatkan dan digugah perasaannya atas kewajib-an mereka terhadap orang tuanya yang sepanjang umurnya dengan berbagai kesulitan dihabiskan untuk mereka serta mengorbankan segala yang ada demi kesenangan dan kebahagiaan mereka hingga datang masa lelah dan letih. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Maka berbuat baik kepada kedua orang tua menjadi keputusan mutlak dari Allah dan ibadah yang menempati urutan kedua setelah beribadah kepada Allah: <em> </em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliha-raanmu&#8221;. (Al-Isra&#8217;: 23)</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Kibar</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> atau <em>kibarul sin</em> artinya berusia lanjut, umur sudah mulai menua, punggung sudah mulai membung-kuk dan kulit sudah mulai keriput<em>. &#8216;Indaka</em> yang berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa tua, lemah dan tidak berdaya. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;">
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman: </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;"> &#8220;Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan &#8220;ah&#8221; dan janganlah kamu membentak mereka</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;. (Al-Isra&#8217;: 23) </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Seakan-akan Allah berfirman; Bersopan santunlah kamu kepada orang tua! Dengan demikian ayat tersebut mengajarkan sikap sopan agar seorang anak tidak menunjukkan sikap kasar serta menyakitkan hati atau merendahkan kedua orang tua. Allah<em> Ta&#8217;ala</em> berfirman: <em> </em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia&#8221;</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Ini tingkatan yang lebih tinggi lagi yaitu keharusan bagi anak untuk selalu mengucapkan perkataan yang baik kepada kedua orang tua dan memperlihatkan sikap hormat serta menghargai. Allah<em> Ta&#8217;ala </em>juga berfirman: <em> </em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang&#8221;</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Seolah-olah sikap rendah diri memiliki sayap dan sayap tersebut direndahkan sebagai tanda penghormatan dan penyerahan diri dalam arti sikap rendah diri yang selayaknya diperintahkan kepada kedua orang tua, seba-gai pengakuan tulus atas kebaikan dan jasa-jasanya. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Allah<em> Ta&#8217;ala</em> berfirman:  &#8221;<em>Dan ucapkanlah: </em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Wahai Tuhanku kasihilah me-reka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;. <em>(Al-Isra&#8217;: 24)</em> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Penyebutan kondisi masa kecil yang lemah yang membutuhkan perawatan dari kedua orang tua meng-ingatkan kepada kondisi yang sama yang sedang dialami orang tua tatkala menginjak lanjut usia yang selalu membutuhkan kasih sayang dan perawatan semisal. Lalu memohon kepada Allah agar bisa memberi belas-kasih kepada mereka berdua sebagai pengakuan atas kekurangan dalam memberi kasihsayang secara sem-purna dan hanya Allahlah yang bisa memberi kasih-sayang atau perawatan yang sangat sempurna serta hanya Dialah yang mampu membalas semua kebaikan dengan sempurna yang tidak mungkin bagi anak untuk melakukannya. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Bukti kasih sayang Allah banyak sekali yang tampak pada makhluk lain. Suatu contoh cahaya mata-hari yang menyinari alam semesta, udara yang dihirup manusia melalui proses paru-paru, air berfungsi untuk minum, masak dan menyiram tanaman dan kasih sayang ibu terhadap anaknya yang muncul secara fitrah sebagai bukti nyata kasih sayang Allah Rabb semesta alam. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Orang mulia dan baik kepada kedua orang tua akan selalu tahu kedudukan serta kemuliaan orang tua, dia merasakan tatkala mencium tangan ibu atau bapak-nya seolah-olah dia bersujud dengan ruh dan perasaan-nya laksana bersujud kepada Allah, dia mendapatkan jati diri yang sebenarnya sebagai suatu rahasia dalam kehidupan. Semua itu menjadi bukti penghargaan dan penghormatan kepada kedua orang tua. Allah <em>Ta&#8217;la</em> berfirman: <em> </em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya . Dan jika kedua-nya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti ke-duanya&#8221;. (Al-Ankabut: 8). </span></em></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Orang tua adalah kerabat terdekat yang mempu-nyai jasa yang tidak terhingga dan kasih sayang yang besar sepanjang masa sehingga tidak aneh bila hak-haknya juga besar. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Seorang anak wajib mencintai, menghormati dan memelihara orang tua walaupun keduanya musyrik atau berlainan agama, keduanya berhak untuk diberi kebaik-an dan pemeliharaan bukan mentaati dan mengikuti kesyrikan atau agamanya. Allah<em> Ta&#8217;ala</em> berfirman: <em> </em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang ber-tambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.&#8221; </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">(<em>Luqman : 14)</em> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Disebutkan berulang-ulang serta banyak sekali wasiat untuk seorang anak agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya di dalam Al-Qur&#8217;an dan wasiat Rasul shallallahu &#8216;alaihi wasallam dan tidak disebutkan wasiat orang tua untuk berbuat baik terhadap anaknya kecuali sedikit. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Karena kebaikan dan pengorbanan orang tua berupa jiwa, raga dan kekuatan yang tak terhitung tanpa berkeluh kesah dan meminta balasan dari anaknya, secara fitrah(naluri) sudah cukup sebagai pendorong kedua orang tua untuk bersikap demikian tanpa ditekan dengan wasiat. Adapun anak harus selalu diberi wasiat dan diingatkan agar senantiasa ingat akan jasa-jasa orang yang selama ini telah mencurahkan jiwa dan raga serta seluruh hidupnya dalam membesarkan dan mendidiknya. Apalagi seorang ibu selama mengandung mengalami banyak beban berat sebagaimana firman Allah <em>Ta&#8217;ala </em>(ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah), ibu lebih banyak menderita dalam membesarkan dan mengasuh anaknya, dan penderitaan di saat hamil tidak ada yang bisa merasakan payahnya kecuali kaum ibu juga. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Buraidah dari bapaknya bahwa ada seorang lelaki yang sedang thawaf sambil menggendong ibunya, lalu dia bertanya kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam: &#8220;<em> </em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">Apakah dengan ini saya sudah menunaikan haknya?&#8221;</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> Beliau<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>menjawab: &#8220;<em>Belum! Walaupun se-cuil</em>&#8220;. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Dari Al-Miqdam bahwasanya Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda: </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Sesungguhnya Allah berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibu-ibumu, sesungguhnya Allah berwa-siat agar berbuat baik kepada bapak-bapakmu dan sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu&#8221;. </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">(<em>Dishahih-kan oleh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah) </em></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Anak adalah bagian hidup dan belahan hati orang tua, kasih sayangnya mengalir di dalam darah daging keduanya. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Dari &#8216;Aqra&#8217; bin Habis sesungguhnya dia melihat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam mencium Hasan, lalu dia berkata: &#8220;Sesung-guhnya saya mempunyai sepuluh orang anak dan saya tidak pernah mencium seorangpun di antara mereka. Beliau bersabda: </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Sesungguhnya barangsiapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayang&#8221;. (Muttafaq &#8216;alaih)</span></em></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;"> </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Al-Ahnaf bin Qais rahimahullah ditanya tentang masalah sikapnya terhadap anak, maka beliau menjawab: Anak adalah buah hati, belahan jiwa dan tulang punggung, kita rela terhina bagaikan bumi rela diinjak demi mereka dan bagaikan langit yang siap menaungi hidup mereka dan kita siap menjadi senjata pelindung bagi mereka dalam menghadapi marabahaya. Jika mereka minta sesuatu kabulkanlah dan bila marah cari sesuatu yang menye-nangkan hatinya, maka mereka akan membalas kasih sayangmu dan berterimakasih atas setiap pemberian-mu. Janganlah kalian merasa berat dan terbebani oleh anakmu, sebab mereka akan mengacuhkan hidupmu dan menghendaki kematianmu serta segan mendekati-mu. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Apabila seorang anak di mata orang tua keduduk-annya seperti itu, seharusnya anak menempatkan posisi orang tua tidak kurang dari itu dalam menghormati dan memuliakan orang tua mereka sebagai bukti balas budi dan pengakuan terhadap kebaikan yang telah didapat dari orang tua. Di samping tetap melestarikan kewajiban silaturrahim kepada mereka berdua sesuai ketentuan Kitabullah. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda: </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Tiga macam doa yang pasti terkabulkan; doa orang tua untuk anaknya, doa orang musafir dan doa orang yang teraniaya&#8221;. </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">(<em>Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah,</em> <em>Al-Albani).</em> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>meminta izin untuk ikut serta berjihad, maka beliau<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bertanya: &#8220;Apakah kedua orang tuamu masih hidup? Dia berkata<em>: &#8220;Ya, masih hidup</em>&#8220;. Beliau bersabda:</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;"> &#8220;<em>Maka berjihadlah dalam (menjaga) keduanya&#8221;.</em> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Dari Abu Bakrah berkata bahwasanya Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda: </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Maukah kalian aku ceritakan tentang dosa yang paling besar?</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> Kami menjawab: &#8220;Ya wahai Rasu-lullah&#8221;. Beliau bersabda:<br />
</span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.&#8221; </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Beliau waktu itu bersandar, maka terus duduk dan bersabda<em>: </em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Ketahuilah, dan perkataan dusta&#8221;.</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;"> <em>(Shahihul Jami&#8217;)</em> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Dari Abdullah Ibnu Mas&#8217;ud berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam: Apakah amal yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab: </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Shalat pada waktunya.&#8221;</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;"> </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Saya bertanya: &#8220;Lalu apalagi?&#8221; Beliau bersabda: </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Berbuat baik kepada orang tua&#8221;</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> Saya bertanya: &#8220;Kemudian apalagi?&#8221; Beliau shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersab-da: </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Jihad di jalan Allah&#8221;</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> (<em>Muttafaq &#8216;alaih) </em></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Dari Jabir bin Abdullah sesungguhnya seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai harta dan anak, dan bapak saya meng-inginkan hartaku. Maka beliau<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda: </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu&#8221;.</span></em><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">(<em>Muttafaq &#8216;alaih).</em> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Dan petunjuk <em>birrul walidain</em> yang terbaik adalah sikap yang telah ditunjukkan oleh para nabi <em>&#8216;alaihimus shalatu wa salam</em> sebagai simbol anutan dan petunjuk bagi setiap manusia. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Nabi Ismail <em>&#8216;alaihi salam</em> berkata dan ucapannya diabadi-kan dalam firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>: <em> </em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Ia menjawab: &#8220;Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar&#8221;</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">. <em>(Ash-Shafaat: 102).</em> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Nabi Nuh &#8216;<em>alaihi salam </em>berkata juga dan ucapannya dise-butkan dalam firman Allah<em> Ta&#8217;ala</em>: </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman&#8221;. </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">(<em>Nuh: 28) </em></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Nabi Isa <em>&#8216;alaihi salam</em> juga disifati oleh Allah<em> Ta&#8217;ala</em> dalam firman-Nya: <em>&#8220;Dan berbakti kepada ibuku&#8221;. </em>(<em>Maryam: 32)</em> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;">
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Nabi Yahya<em> &#8216;alaihi salam </em>juga disifati oleh Allah<em> Ta&#8217;ala</em> demikian yang disebutkan dalam firman Allah: </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka&#8221;. </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">(<em>Maryam: 14)</em> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Betapa indahnya bila seorang muslim bisa mencontoh dan mengikuti jejak para nabi.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">&#8220;Wahai anakku siang malam sepanjang umurku, aku korbankan untukmu agar kalian berbahagia, kedua orang tuamu letih dan menderita serta hati gundah bila engkau sedang sakit dan wajahmu pucat. Anakku tercinta. Itulah kalimat yang sering diulang-ulang oleh seorang ibu atau bapak. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Wahai seorang anak! Ingatlah jasa kedua orang tuamu yang besar tatkala engkau masih berada dalam kandungan, di saat kau masih bayi dan setelah kau menginjak remaja hingga engkau menjadi orang dewasa. Sekarang tiba saatnya kedua orang tuamu membutuh-kan kasih sayang dan perhatian darimu. Sementara engkau hanya sibuk mengurusi isteri dan anak-anakmu hingga orang tuamu engkau abaikan, padahal orang arab jahiliyah dulu menganggap aib dan harga diri jatuh jika ada seorang anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Peribahasa-peribahasa Arab menceritakannya, menuduhnya dengan gambaran yang sangat jelek sekali bahkan memberinya julukan dengan julukan-julukan yang sangat keji. Akan tetapi kita membaca banyak cerita di zaman sekarang tentang cerita anak-anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Abu Ubaidah At-Taimy dalam kitabnya, <em>Al-&#8217;Aqaqah wal Bararah</em> menuturkan beberapa contoh orang-orang yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan beberapa contoh orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Seorang dari bani Qurai&#8217; bernama Murrah bin Khattab bin Abdullah bin Hamzah pernah mengejek dan terkadang memukul orang tuanya, se-hingga bapaknya berkata: </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">Saya besarkan dia tatkala dia masih kecil bagaikan anak burung yang baru lahir yang masih lemah tulang-belulangnya. Induknya yang menyuapi makan sampai melihat anaknya sudah mulai berkulit sempurna.</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Dan contoh lain yang durhaka kepada orang tua-nya adalah putra Umi Tsawab Al-Hazaniyah, dia durhaka kepada ibunya karena isterinya selalu menghalangi untuk berbuat baik kepada ibunya, sehingga ibunya mengungkapkan kepedihan hati dalam sebuah syair: </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">Saya mengasuhnya di masa kecil tatkala masih seper-ti anak burung, sementara induknya yang menyuapi makanan dan melihat kulitnya yang masih baru tumbuh. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">Setelah dewasa dia merobek pakaianku dan me-mukul badanku, apakah setelah masa tuaku aku harus mengajari etika dan adab.</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Dan juga Yahya bin Yahya bin Said, suatu ketika dia pernah menyusahkan bapaknya lalu bapaknya meng-hardiknya dengan menulis syair: </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">Semenjak lahir dan masa bayi yang masih kecil aku mengasuhmu, dan saya selalu berusaha agar engkau menjadi orang tinggi dan berkecukupan. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">Di malam hari engkau mengeluh sakit hingga tidak bisa tidur. Keluhan itu membuatku gundah dan ketakutan. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt 36pt;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">Jiwa selalu gelisah memikirkan keselamatan untuk dirimu, sebab aku tahu setiap jiwa terancam oleh ke-matian.</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:6pt 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Contoh-contoh di atas merupakan sebagian dari beberapa kasus anak durhaka kepada kedua orang tua-nya yang terjadi pada masa lampau dan sekarang. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Dan di dalam sebagian lagu-lagu masyarakat jahili-yah dahulu, yang sering para wanita lantunkan adalah: </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">Ya Allah, apa yang harus saya perbuat terhadap anakku yang durhaka, di masa kecil aku dengan susah payah membesarkannya, setelah menikah dengan seorang putri Romawi dia berbuat semena-mena terhadapku</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">.</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> Wanita ini mengadu kepada Allah terhadap sikap anaknya yang telah diasuh dengan susah payah, tetapi setelah menikah dengan wanita nasrani Romawi, dia melupakan ibunya. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Adapun contoh orang-orang yang berbuat baik kepada orang tua antara lain; cerita tiga orang yang terjebak dalam gua, di antara mereka ada yang mengata-kan: &#8220;Tidak ada cara yang mampu menyelamatkan kalian kecuali bertawassul dengan amal shalih kalian. Seorang di antara mereka berdo&#8217;a: &#8220;Ya Allah saya mempunyai dua orang tua yang lanjut usia dan saya sekeluarga tidak makan dan minum di malam hari sebelum mereka berdua, pada suatu saat saya pernah pergi jauh untuk suatu keperluan sehingga saya pulang terlambat dan sesampainya di rumah saya mendapatkan mereka berdua dalam keadaan tidur. Lalu saya memerah susu untuk malam itu, tetapi mereka berdua masih tetap tidur pulas, sementara saya tidak suka jika makan dan minum sebelum mereka. Akhirnya saya menunggu sambil memegang susu hingga mereka berdua ter-bangun, sampai fajar terbit mereka berdua baru bangun lalu meminum susu. Ya Allah jika perbuatan yang telah aku kerjakan tersebut termasuk perbuatan ikhlas karena mencari wajahMu, maka hilangkanlah kesulitan kami dari batu besar ini, lalu batu itu pun bergeser dari mulut gua. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Masih banyak contoh-contoh lain tentang orang-orang yang berbakti kepada orang tua baik di masa lampau maupun sekarang yang tidak mungkin kita ceritakan seluruhnya, kebaikan tersebut mereka per-sembahkan kepada orang tua sebagai balasan atas jasa-jasa, perhatian dan pemeliharaan mereka dan sebagai bukti pengakuan tulus dan akhlak mulia. Ini semua mengharuskan kepada setiap anak untuk mengingat kebaikan yang selalu mengalir tak ada hentinya hingga akhir hayat. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Sebagian orang-orang shalih sebelum berangkat kerja ada yang menyempatkan diri singgah ke rumah orang tuanya sambil mencium tangannya untuk memin-ta restu dan menanyakan keadaan serta kesehatan mereka. Lalu berangkat ke tempat kerja. Sikap mulia dan terpuji ini, sangat baik jika dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hu-rairah bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: <em>&#8220;Celakalah, celakalah&#8221;.</em> Beliau ditanya: &#8220;Siapa wahai Rasulullah? Beliau<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda: </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Seseorang yang mendapati orang tuanya, dan salah satu atau keduanya berusia lanjut, kemudian tidak masuk Surga&#8221;.</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Dari Abdullah bin Umar berkata bahwasanya Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda: </span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Tiga orang tidak masuk Surga dan tidak dilihat Allah pada hari Kiamat; Orang yang durhaka kepa-da orang tua, wanita yang menyerupai laki-laki dan dayyuts. </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">(<em>HR. Ahmad)</em> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Durhaka kepada orang tua adalah perbuatan zhalim besar dan sikap tidak tahu diri. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Rasulullah yang mengajari umat manusia etika dan tata krama mengetahui kedudukan dan fungsi seorang ibu dan bapak kemudian memberikan petunjuk kepada setiap orang mukmin agar menjadi umat yang bertang-gung jawab. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Di antara bentuk <em>birrul walidain </em>setelah orang tuanya meninggal adalah dengan menyambung hubung-an kerabat dengan teman dan sahabat orang tuanya. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Dari Abdullah bin Umar berkata sesungguhnya saya mendengar Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda<em>:</em></span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;"> &#8220;Sesungguhnya perbuatan yang terbaik adalah me-nyambung hubungan kerabat dengan sahabat orang tuanya&#8221;. </span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">(<em>Shahihul Jami&#8217;, Al-Albani)</em> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Bukti cinta dan berbakti kepada orang tua adalah menghormati dan menjaga hubungan persahabatan orang tua dengan teman-temannya. Pada saat seseorang mempererat hubungan persahabatan dengan teman bapaknya, merupakan bukti dalam berbakti kepada orang tua dan pertanda hasil baik pendidikan orang tua kepada anak. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;" lang="SV">Imam Muslim dalam kitab shahihnya menyebutkan tentang bab keutamaan menyambung hubungan persa-habatan dengan teman-teman bapak atau ibu. </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Karena Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wasallam </em>bersabda:<br />
</span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;Sesungguhnya perbuatan yang terbaik adalah menyambung hubungan persahabatan dengan saha-bat orang tuanya</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:fuchsia;">&#8220;. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Dan juga hadits tentang Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wasallam</em> dalam meng-hormati teman-teman Khadijah setelah wafatnya. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Para</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> ulama mengatakan bahwa <em>al-birr</em> bermakna menyambung silaturrahim, menyayangi dan berbuat ke-baikan serta menjaga persahabatan. Seluruhnya termasuk bagian inti kebaikan. (<em>Kholid Ar Rasyid)</em></span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/setiabasa.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/setiabasa.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setiabasa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setiabasa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setiabasa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setiabasa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setiabasa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setiabasa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setiabasa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setiabasa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setiabasa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setiabasa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setiabasa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setiabasa.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setiabasa.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setiabasa.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiabasa.wordpress.com&amp;blog=3250716&amp;post=15&amp;subd=setiabasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/13/berbakti-kepada-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">setiabasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TAK SESULIT YANG ANDA BAYANGKAN</title>
		<link>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/13/tak-sesulit-yang-anda-bayangkan/</link>
		<comments>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/13/tak-sesulit-yang-anda-bayangkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 03:48:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>setiabasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setiabasa.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah ladang terdapat sebongkah batu yang amat besar. Dan seorang petani tua selama bertahun-tahun membajak tanah yang ada di sekeliling batu besar itu. Sudah cukup banyak mata bajak yang pecah gara-gara membajak di sekitar batu itu. Padi-padi yang ditanam di sekitar batu itu pun tumbuh tidak baik. Hari ini mata bajaknya pecah lagi. Ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiabasa.wordpress.com&amp;blog=3250716&amp;post=14&amp;subd=setiabasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><tt><span style="line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Di sebuah ladang terdapat sebongkah batu yang amat besar. Dan seorang petani tua selama bertahun-tahun membajak tanah yang ada di sekeliling batu besar itu. Sudah cukup banyak mata bajak yang pecah gara-gara membajak di sekitar batu itu. Padi-padi yang ditanam di sekitar batu itu pun tumbuh tidak baik. </span></tt><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><tt><span style="line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Hari ini mata bajaknya pecah lagi. Ia lalu memikirkan bahwa semua kesulitan yang dialaminya disebabkan oleh batu besar ini. Lalu ia memutuskan untuk melakukan sesuatu pada batu itu. Lalu ia mengambil linggis dan mulai menggali lubang di bawah</span></tt><span style="line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"> <tt><span style="line-height:150%;font-family:&quot;">batu. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa batu itu hanya setebal sekitar 6 inchi saja. Sebenarnya batu itu bisa dengan mudah dipecahkan dengan palu biasa. Kemudian ia lalu menghancurkan batu itu sambil tersenyum gembira. Ia teringat bahwa semua kesulitan yang di alaminya selama bertahun-tahun oleh batu itu ternyata bisa diatasinya dengan mudah dan cepat.</span></tt></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;line-height:150%;"><tt><span style="text-decoration:underline;"><span style="line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;">Renungan:</span></span></tt><span style="line-height:150%;font-family:&quot;color:navy;"><br />
<tt><span style="line-height:150%;font-family:&quot;">Kita sering ditakuti oleh bayangan seolah permasalahan yang kita hadapi tampak besar, padahal ketika kita mau melakukan sesuatu, persoalan itu mudah sekali diatasi. Maka, atasi persoalan anda sekarang. Karena belum tentu sebesar yang anda takutkan, dan belum tentu sesulit yang anda bayangkan</span></tt></span><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/setiabasa.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/setiabasa.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setiabasa.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setiabasa.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setiabasa.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setiabasa.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setiabasa.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setiabasa.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setiabasa.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setiabasa.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setiabasa.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setiabasa.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setiabasa.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setiabasa.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setiabasa.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setiabasa.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiabasa.wordpress.com&amp;blog=3250716&amp;post=14&amp;subd=setiabasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/13/tak-sesulit-yang-anda-bayangkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">setiabasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibunda, Kenapa Engkau Menangis ?</title>
		<link>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/11/ibunda-kenapa-engkau-menangis/</link>
		<comments>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/11/ibunda-kenapa-engkau-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 21:32:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>setiabasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Ibunda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setiabasa.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. &#8220;Ibu, mengapa Ibu menangis?&#8221;. Ibunya menjawab, &#8220;Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak&#8221;. &#8220;Aku tak mengerti&#8221; kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. &#8220;Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti&#8230;.&#8221; Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. &#8220;Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiabasa.wordpress.com&amp;blog=3250716&amp;post=5&amp;subd=setiabasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;text-align:justify;"><a href="http://setiabasa.files.wordpress.com/2008/06/image257.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-7" src="http://setiabasa.files.wordpress.com/2008/06/image257.jpg?w=265&#038;h=225" alt="" width="265" height="225" /></a></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. &#8220;Ibu, mengapa Ibu menangis?&#8221;. Ibunya menjawab, &#8220;Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak&#8221;. &#8220;Aku tak mengerti&#8221; kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. &#8220;Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;">Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. &#8220;Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?&#8221;Sang ayah menjawab, &#8220;Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan&#8221;. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;">Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.&#8221;Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?&#8221;Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,&#8221;Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;">Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, danmengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa. Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;">Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;text-align:justify;">Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk<br />
memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.</p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;">Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkanperasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan&#8221;.</p>
<p style="text-indent:36pt;">Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup</p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:36pt;"><tt></tt></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/setiabasa.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/setiabasa.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setiabasa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setiabasa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setiabasa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setiabasa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setiabasa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setiabasa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setiabasa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setiabasa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setiabasa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setiabasa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setiabasa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setiabasa.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setiabasa.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setiabasa.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiabasa.wordpress.com&amp;blog=3250716&amp;post=5&amp;subd=setiabasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/11/ibunda-kenapa-engkau-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">setiabasa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://setiabasa.files.wordpress.com/2008/06/image257.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Senangkan Orang Tua Semasa Hidup !</title>
		<link>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/11/senangkan-orang-tua-semasa-hidup/</link>
		<comments>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/11/senangkan-orang-tua-semasa-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jun 2008 21:17:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>setiabasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://setiabasa.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Hikmah dari Pengalaman Seseorang&#8221; Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun lalu, ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 orang bergiliran menjenguknya. Kami semua sudah berkeluarga dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiabasa.wordpress.com&amp;blog=3250716&amp;post=3&amp;subd=setiabasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong> &#8220;Hikmah dari Pengalaman Seseorang&#8221; </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun lalu, ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 orang bergiliran menjenguknya.<br />
</span><span style="font-size:10pt;"><br />
</span><span style="font-size:10pt;">Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di Teluk Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri saya mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala   Lumpur.</span></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Nggak usah. lain kali saja.!&#8221;jawab ayah. Jawaban itu yang selalu diberikan kepada kami saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah mengalah dan mau menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia minta diantar balik. Ada-ada saja alasannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain dan bersenda-gurau dengan kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai minta pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya. &#8220;Saya sibuk, ayah. tak boleh ambil cuti. Tunggulah sebentar lagi. akhir minggu ini saya akan antar ayah,&#8221; balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka. &#8220;Biarlah ayah pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus saja yah.&#8221; katanya yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah berkali-kali pulang naik bus sendirian.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Nggak usah saja yah.&#8221; bujuk saya saat makan malam. Ayah diam dan lalu masuk ke kamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak berangkat ke kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk membelikannya tiket bus. &#8220;Ayah ini benar-benar nggak mau mengerti yah. saya sedang sibuk, sibuuukkkk!!!&#8221; balas saya terus keluar menghidupkan mobil.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat mukanya. Di dalam mobil, istri saya lalu berkata, &#8220;Mengapa bersikap kasar kepada ayah? Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!&#8221; Saya terus membisu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya penuhi permintaan ayah. &#8220;Jangan lupa, Pa.. belikan tiket buat ayah, &#8220;katanya singkat. Di kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta ijin untuk keluar kantor membeli tiket bus buat ayah. Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah untuk bersiap. &#8220;Bus berangkat pk. 14.00,&#8221; kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap agak kasar karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala ayah.<br />
Ayah tanpa banyak bicara lalu segera berbenah. Dia masukkan baju-bajunya kedalam tas dan kami berangkat. Selama dalam perjalanan, kami tak berbicara sepatah kata pun. Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa saya.!<br />
Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu saya Pamit dan terus turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya memandang keluar jendela. Setelah bus berangkat, saya lalu kembali ke mobil. Saat melewati halaman stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang di<br />
atas meja dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan teringat ayah yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia selalu minta dibelikan kue itu. Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun.<br />
Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu.Ingat pekerjaan di kantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan, ingat Istri yang berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya mempertahankan ego saya saat istri meminta saya menelpon ayah di kampung seperti yang biasa saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus. Malam berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi. &#8220;Nggak mungkin belum tiba,&#8221; jawab saya sambil meninggikan suara.<br />
Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan. &#8220;Ayah sudah tiada.&#8221; kata sepupu saya disana. &#8220;Beliau meninggal 5 menit yang lalu setelah mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi.&#8221; Ia lalu meminta saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh terduduk di lantai dengan gagang telepon masih di tangan. Istri lalu segera datang dan bertanya, &#8220;Ada apa, bang?&#8221; Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru bisa berkata, &#8220;Ayah sudah tiada!!&#8221; Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat Itu saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue pisang, kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di rumah, kata-kata istri mengenai ayah silih berganti menyerbu pikiran.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya Tuhan yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu. Saya sangat merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya mencurahkan perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan ayah yang sangat mengerti akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan<br />
seorang tua yang merindukan belaian kasih sayang anak-anaknya sebelum meninggalkannya buat selama-lamanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati saya bagai terobek-robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa pada saat-saat akhir saya bersamanya. Saya merasa sangat bersalah dan tidak dapat memaafkan diri ini.<br />
Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan ibu masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak berarti lagi.<br />
<strong><em><br />
Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka. Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/setiabasa.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/setiabasa.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setiabasa.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setiabasa.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setiabasa.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setiabasa.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setiabasa.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setiabasa.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setiabasa.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setiabasa.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setiabasa.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setiabasa.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setiabasa.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setiabasa.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setiabasa.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setiabasa.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiabasa.wordpress.com&amp;blog=3250716&amp;post=3&amp;subd=setiabasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setiabasa.wordpress.com/2008/06/11/senangkan-orang-tua-semasa-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">setiabasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://setiabasa.wordpress.com/2008/03/23/hello-world/</link>
		<comments>http://setiabasa.wordpress.com/2008/03/23/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 11:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>setiabasa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiabasa.wordpress.com&amp;blog=3250716&amp;post=1&amp;subd=setiabasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/setiabasa.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/setiabasa.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/setiabasa.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/setiabasa.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/setiabasa.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/setiabasa.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/setiabasa.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/setiabasa.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/setiabasa.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/setiabasa.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/setiabasa.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/setiabasa.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/setiabasa.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/setiabasa.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/setiabasa.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/setiabasa.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=setiabasa.wordpress.com&amp;blog=3250716&amp;post=1&amp;subd=setiabasa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://setiabasa.wordpress.com/2008/03/23/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">setiabasa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
